Oleh: Nana Gunawan *)
Bantuan pompa untuk pengairan sawah
dan pertanian atau pompanisasi mendapat apresiasi masyarakat khususnya dari
para petani. Program ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah untuk mengatasi
potensi kekeringan panjang dan mendorong produktivitas pertanian. Tujuannya,
agar tidak terjadi penurunan produksi beras. Pompanisasi ini sangat diperlukan
untuk mengalirkan air dari sumber air yang berada lebih rendah dibandingkan
sawahnya untuk masuk ke irigasi sekunder dan tersier sehingga diharapkan
produksi beras bisa panen lebih dari satu atau dua kali dalam satu tahun.
Inisiatif pompanisasi menjadi salah
satu Langkah konkret Pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi
petani di Indonesia, serta mendukung upaya-upaya peningkatan produksi pangan
lokal ataupun nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang kian
nyata. Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa
solusi cepat yang dapat dilakukan oleh Kepala Daerah di seluruh Indonesia untuk
mengatasi pertanian khususnya kekeringan sawah adalah dengan optimalisasi
pompanisasi.
Andi Amran mengatakan bahwa
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menyiapkan sebanyak 50 ribu unit
pompa yang akan disebar dan dipasang di seluruh sentra produksi pangan di
seluruh Indonesia, dan ujung tombaknya adalah para Kepala Daerah di tiap-tiap
daerah. Apabila terpasang 75 ribu pompa, maka musim kering selanjutnya bisa
diatasi. Fokus kerja yang harus dijalankan Pemerintah saat ini adalah
pompanisasi yang merupakan solusi cepat mengatasi masalah pangan.
Andi Amran menambahkan bahwa saat
ini Pemerintah telah menargetkan 500 ribu hektare lahan di Pulau Jawa yang akan
diairi pompanisasi. Jika dihitung secara rinci, Amran menyebutkan bahwa 500
ribu hektare tersebut mampu menghasilkan 2,5 juta ton gabah dengan rata-rata
produksi 5 ton per-hektare. Artinya, produksi beras di Indonesia bisa
terpenuhi.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri
(Mendagri), Muhammad Tito Karnavian meminta kepada para Kepala Daerah di
seluruh Indonesia untuk memperkuat program pompanisasi sebagai solusi cepat
mengatasi kekeringan Panjang yang saat ini dijalankan Pemerintah. Menurut Tito,
program tersebut merupakan upaya Pemerintah dan juga arahan langsung Presiden
Jokowi maupun Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam meningkatkan produksi
dalam negeri di saat dunia dilanda kekeringan akibat gelombang panas.
Tito menegaskan bahwa pompanisasi
perlu perhatian dari masing-masing Kepala Daerah karena tanpa adanya political
will atau keinginan kuat bersama, maka kekhawatiran program itu tidak dapat
berjalan maksimal. Masalah pangan terutama beras adalah masalah yang sangat
vital karena berkaitan erat dengan stabilitas politik dan keamanan. Oleh karena
itu, perlunya melakukan peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri maupun ekspor karena akan berkolerasi dengan keamanan dan angka
inflasi.
Pihaknya berharap agar para Kepala
Daerah segera melakukan pengecekan langsung terkait pompa yang sudah diberikan
Kementerian Pertanian apakah sudah berjalan dalam memenuhi kebutuhan air sawah
atau tidak. Hal ini harus rutin dilakukan untuk menjaga agar sawah-sawah
kecukupan air menjelang kekeringan Panjang.
Di sisi lain, Pemerintah Daerah yang
berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan TNI Angkatan Darat juga sedang
menjalankan program ketahanan pangan melalui pompanisasi. Program ini dinilai
terbukti sangat efektif dalam mengatasi tantangan pengairan sawah saat musim
kemarau dan memastikan ketersediaan air yang cukup untuk tanaman padi.
Demi mencapai target produksi padi
Kab. Lamongan pada tahun 2024, Bupati Lamongan bersama Komandan Sekolah Staf
dan Komando Angkatan Darat, Mayjen TNI Agus Prangarso mengatakan bahwa produksi
gabah di daerah tersebut telah mencapai puncaknya selama musim tanam pertama
dengan tercatat lebih dari 600 ribu ton. Dengan pencapaian ini, Pemerintah
optimis dapat mencapai target produksi tahunan sebesar 1,2 juta ton.
Kemudian, bantuan program
pompanisasi dari Kementerian Pertanian yang diterima Kab. Pemalang diharapkan
mampu mendorong produktivitas padi di wilayahnya. Bantuan berupa sejumlah paket
pompa air tersebut diberikan sebagai langkah terobosan dalam upaya menjaga
pangan agar tidak bergejolak akibat dampak dari El Nino yang berkepanjangan.
Kepala Dinas Pertanian Pemalang, Prayitno melalui Kepala Bidang Sarana dan
Prasarana, Budi Santoso mengatakan bahwa program pompanisasi dari Kementan
merupakan program percepatan areal tanam agar produktivitasnya bisa meningkat.
Hasil tanam yang diproduksi diharapkan bisa lebih dari 6 ton.
Sedangkan, Pemerintah Kab. Bekasi
akan menggunakan sistem pompanisasi sawah tadah hujan yang dapat mendorong
pasokan air ke sawah selama musim kemarau. Hal ini merupakan salah satu upaya
Pemerintah Daerah dalam mengantisipasi akibat kondisi kerawanan pangan di
tengah meningkatnya jumlah penduduk dan kawasan industri di Kab. Bekasi. Untuk
upaya jangka pendeknya, Pemerintah Kab. Bekasi memanfaatkan sisa musim hujan
dan menghadapi awal musim kemarau dengan melakukan pompanisasi untuk mendorong
air agar bisa sampai ke sawah.
Pompanisasi sawah merupakan salah
satu instrument utama dalam menjaga menjaga ketersediaan air bagi pertanian,
terutama di musim kemarau atau akibat adanya El Nino. Dengan terpasangnya pompa
tersebut diharapkan dapat tepat guna sehingga produktivitas panen dapat
berangsur naik.
)* Penulis adalah Pengamat Ekonomi
Nusa Bangsa Institute.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar