Oleh : Rendra Pradipta )*
Penyelenggaraan Indonesia
Africa Forum (IAF) Ke-2 dan High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships
(HLF MSP) di Bali menambah daftar panjang keberhasilan Indonesia dalam
menggelar event internasional. IAF dan HLF MSP 2024 merupakan dua forum penting
yang menandai langkah maju dalam upaya global untuk membangun kemitraan yang
berkelanjutan dan solusi inovatif.
Presiden Joko Widodo
secara resmi membuka Indonesia Africa Forum (IAF) ke-2 dan High-Level Forum on
Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) di Bali. Dalam pidatonya, Presiden
mengajak seluruh masyarakat dunia untuk meningkatkan solidaritas dan kesetaraan
dalam menghadapi berbagai tantangan global. Di awal pidatonya, Presiden Jokowi
menggambarkan kondisi global yang penuh tantangan, seperti perlambatan ekonomi,
meningkatnya pengangguran, inflasi, dan ketegangan geopolitik yang terus
berlanjut. Namun, ia menyoroti bahwa di tengah tantangan-tantangan tersebut,
justru solidaritas internasional terlihat semakin melemah.
Presiden menekankan
pentingnya memiliki arah dan visi baru untuk mencapai pembangunan yang lebih
adil dan inklusif, terutama bagi negara-negara berkembang. Ia menekankan bahwa
hanya melalui kerja sama dan solidaritas internasional, tantangan-tantangan ini
dapat diatasi. Lebih lanjut, Presiden Jokowi menegaskan komitmen Indonesia
untuk menjadi bagian dari solusi global, khususnya dalam memperjuangkan prinsip
kesetaraan, keadilan, dan solidaritas.
Dalam kesempatan berharga
tersebut, Presiden Jokowi juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap dampak
situasi global terhadap negara-negara berkembang. Ia menyatakan bahwa
negara-negara berkembang adalah yang paling merasakan dampak dari tantangan
global saat ini, yang pada akhirnya, negara-negara berkembang adalah yang
paling terdampak. Jutaan rakyat di negara berkembang menghadapi kesulitan yang
sangat berat, sementara kita hanya memiliki enam tahun tersisa menuju 2030, dan
baru 17% target SDGs yang tercapai.
IAF ke-2 dan HLF-MSP 2024
menjadi momen penting bagi Indonesia untuk semakin memperkuat perannya di
panggung global. Melalui forum ini, Indonesia berupaya mendorong kerja sama
yang lebih inklusif dan memperkuat solidaritas internasional, sekaligus memperkuat
warisan diplomasi positif yang telah dibangun selama ini
Keduanya memberikan
platform untuk memperkuat hubungan internasional, mendorong investasi dan
perdagangan, serta menghadapi tantangan global dengan cara yang lebih
terkoordinasi. Dengan kolaborasi yang erat antara berbagai pemangku
kepentingan, diharapkan hasil dari kedua forum ini akan membawa dampak positif
yang luas dan berkelanjutan bagi dunia.
Dalam gelaran IAF 2024,
Indonesia telah mengangkat empat isu prioritas yang berfokus pada sektor
ekonomi dengan kesepakatan bisnis hingga 3,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 54,69
triliun). Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Pahala N Mansury,
mengatakan kesepakatan bisnis antara swasta dan BUMN Indonesia dan Afrika
dicapai melalui empat isu prioritas.
Pertama adalah sektor
ketahanan pangan. Indonesia memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan
Afrika sebagai pasar nontradisional. Afrika memiliki potensi
seperti lahan yang luas dan iklim yang baik, serta potensi perdagangan dan
rantai pasok sektor pangan yakni pupuk dan pengembangan biofuel.
Isu prioritas kedua untuk
kerja sama yang ditingkatkan adalah ketahanan energi. Afrika menyimpan 10
persen cadangan minyak dunia. Selain energi fosil, energi terbarukan juga
memiliki peluang kerja sama yang besar. Diharapkan ada beberapa pengembangan
energi baru terbarukan seperti tenaga surya ataupun geothermal, masih dijajaki
terus dan semoga bisa finalisasi.
Di sektor kesehatan,
Indonesia dan Afrika disebutkan memiliki kebutuhan obat, vaksin, maupun alat
kesehatan yang tinggi. Wamenlu menjelaskan sudah terdapat beberapa kerja sama
di sektor kesehatan, seperti produk vaksin polio ke Afrika, yang juga melibatkan
Biofarma dan Kimia Farma.
Sektor ketahanan mineral
kritis menjadi prioritas keempat kerja sama kedua negara. Indonesia dan Afrika
memiliki cadangan mineral kritis untuk transisi energi antara lain nikel,
kobalt, grafit, dan mangan. Menurut Wamenlu, potensi yang bisa dikembangkan termasuk
rantai pasok untuk produksi komponen dan baterai kendaraan listrik.
IAF ke-2 telah
menghasilkan kerja sama di berbagai sektor antara Indonesia dengan
negara-negara Afrika, kesepakatan bisnis antarkalangan swasta maupun BUMN,
serta rancangan Kerja Sama Pembangunan dengan Afrika 2024-2029. Dengan
mengangkat tema “Bandung Spirit for Africa's Agenda 2063”, sebanyak enam kepala
negara atau pemerintahan dari Benua Afrika hadir dalam perhelatan tersebut.
Sementara itu,
keberhasilan HLF MSP 2024 menjadi momentum bagi Indonesia untuk kembali
menunjukkan kepemimpinan global dalam memperkuat solidaritas dan kolaborasi
lintas sektoral. Forum yang sukses digelar
pada 1-3 September 2024 di Bali itu tidak hanya melanjutkan estafet
keberhasilan Indonesia dalam memimpin forum dunia, tetapi juga menjadi
manifestasi dari komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan dan
inklusif.
Direktur Politik Luar
Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Internasional Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas),
Hendra Wahanu Prabandani, menyebut HLF MSP 2024 menjadi bukti nyata bagaimana
Indonesia mampu menggalang kemitraan multi-pihak, mulai dari pemerintah,
organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, hingga akademisi.
Forum ini berhasil menjadi
katalisator untuk solusi inovatif dalam menghadapi tantangan global, serta
memperkuat peran Indonesia sebagai pemimpin dalam upaya mencapai Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Mengusung tema
"Strengthening Multi-Stakeholder Partnerships: Towards a Transformative
Change," HLF MSP 2024 berhasil mempertemukan ribuan peserta dari berbagai
negara dan organisasi internasional untuk bersama-sama membahas isu-isu global
yang mendesak, termasuk upaya mempersempit kesenjangan pembangunan antara
negara-negara di Selatan dan Utara.
Indonesia pun berkomitmen
kuat mendorong solidaritas global sekaligus mempercepat pencapaian Visi
Indonesia Emas 2045 melalui kemitraan multipihak yang inovatif dan
transformatif. Tiga fokus pembahasan pada pertemuan HLF MSP 2024 adalah
pertama, Multi-Stakeholder Partnerships for Strengthening South-South and
Triangular Cooperation, yaitu kemitraan lintas negara yang memperkuat kerja
sama Selatan-Selatan dan Triangular guna menciptakan solusi bersama dalam
menghadapi tantangan global.
Kedua, Enhancing Welfare
and Sustainability through Sustainable Economy, yaitu merumuskan strategi
kolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan melalui ekonomi
yang berkelanjutan dengan menekankan pada pentingnya integrasi lingkungan dalam
pembangunan ekonomi.
Ketiga, Advancing
Development through Innovative Financing, yaitu mendorong pembangunan melalui
pembiayaan yang inovatif, yang menjadi kunci dalam mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan secara efektif.
Salah satu hasil dari HLF
MSP 2024 adalah pembentukan kemitraan baru yang dapat memanfaatkan keahlian dan
sumber daya dari berbagai pemangku kepentingan. Forum ini berfungsi sebagai
tempat bagi ide-ide kolaboratif untuk berkembang dan diimplementasikan. Kedepan,
hasil dari forum ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang signifikan dalam
bentuk kolaborasi global yang lebih erat dan solusi yang lebih efektif untuk
isu-isu yang mendesak.
Keberhasilan Indonesia
menggelar kedua forum internasional tersebut patut mendapat apresiasi dari
berbagai pihak. Hal ini akan kembali menguatkan peran dan kepemimpinan
Indonesia dalam upaya mempersempit kesenjangan pembangunan antarnegara dan
perkuatan solidaritas global yang berkelanjutan.
)* Penulis adalah Pengamat
Masalah Ekonomi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar