Oleh:
Permata Aulia
Menjelang
Pilkada 2024, ancaman yang tidak bisa diabaikan adalah penyebaran isu SARA dan
hoax yang dapat merusak persatuan serta kesatuan bangsa. Dalam momen politik
yang krusial ini, kita semua harus lebih waspada dan bijak dalam menghadapi
berbagai informasi yang beredar.
SARA,
yang melibatkan suku, agama, ras, dan antargolongan, seringkali dijadikan alat
oleh oknum tak bertanggung jawab untuk memecah belah masyarakat. Hal ini
diperparah dengan maraknya berita hoax yang menyebar cepat melalui media
sosial, memicu ketegangan yang tidak perlu dan bahkan konflik horizontal.
Keberagaman
yang seharusnya menjadi kekuatan justru bisa berubah menjadi sumber perpecahan
jika tidak ditangani dengan benar. Untuk itu, penting bagi setiap warga negara
untuk lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu
kebenarannya.
Memastikan
bahwa Pilkada berlangsung aman dan damai bukan hanya tugas pemerintah atau
lembaga tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen
masyarakat.
Forum
Pembauran Kebangsaan (FPK) berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga
keharmonisan masyarakat selama proses politik ini berlangsung. Sebagai wadah
informasi dan komunikasi, FPK memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan
bahwa integrasi nasional tetap terjaga, meskipun di tengah riak-riak politik
yang kadang tak terhindarkan.
FPK
bukan hanya sekadar simbol, melainkan sebuah mekanisme vital untuk menumbuhkan
dan memelihara semangat kebangsaan yang utuh.
Peran
FPK semakin penting ketika ancaman konflik SARA menjadi nyata. Sekretaris
Daerah Kota Pekanbaru, Indra Pomi, dengan tegas meminta agar FPK dapat bekerja
sama dengan pemerintah untuk mencegah konflik yang bisa muncul dari perbedaan
suku, agama, ras, dan antargolongan. Kolaborasi antara FPK dan pemerintah ini
diharapkan dapat menjadi perisai pertama dalam menghadapi potensi gangguan yang
mengancam ketertiban masyarakat.
FPK
juga dituntut untuk memiliki kemampuan deteksi dini terhadap potensi konflik.
Dengan deteksi dini, FPK dapat mengambil langkah pencegahan sebelum masalah
tersebut berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Ibarat
sebuah sistem peringatan dini, FPK harus sigap menangkap tanda-tanda awal
konflik dan segera mengambil tindakan yang diperlukan. Inisiatif seperti ini
akan sangat berguna untuk mencegah timbulnya kerusuhan yang bisa saja merusak
keharmonisan yang telah lama dibangun.
Selain
itu, pengawasan terhadap ujaran kebencian dan berita hoax menjadi agenda
penting yang harus diemban oleh FPK. Dalam era digital ini, hoax menyebar
dengan sangat cepat dan seringkali tak terkendali, yang kemudian menimbulkan
kepanikan atau bahkan kebencian di masyarakat.
Oleh
karena itu, FPK harus mampu memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih
bijak dalam menyikapi informasi yang mereka terima. Edukasi ini bisa dilakukan
melalui diskusi dan sosialisasi yang melibatkan tokoh masyarakat, pemuka agama,
dan berbagai pihak terkait.
Kapolres
Bone, AKBP Erwin Syah, juga menekankan pentingnya kerjasama seluruh elemen
masyarakat untuk menjaga Pilkada yang aman dan damai. Menurutnya, masyarakat
perlu diajak untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah
belah persatuan.
Menyikapi
hoax dan politik identitas yang kerap muncul menjelang Pilkada, Kapolres Bone
mengingatkan pentingnya verifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang
lain. Prinsip "saring sebelum sharing" menjadi sangat relevan untuk
diterapkan dalam situasi ini.
Dalam
konteks yang lebih luas, Bawaslu Jakarta turut mengingatkan agar masyarakat
mewaspadai isu SARA yang bisa saja kembali mencuat seperti pada Pilkada 2017.
Pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua bahwa isu
SARA bisa menjadi alat politik yang sangat berbahaya jika tidak ditangani
dengan baik.
Oleh
karena itu, Bawaslu telah mengintensifkan koordinasi dengan berbagai pihak,
mulai dari tingkat kota hingga kecamatan, untuk memastikan bahwa setiap tahapan
Pilkada berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Untuk
mencegah terjadinya pelanggaran, masyarakat harus aktif mengawasi jalannya
Pilkada di lingkungan masing-masing. Keterlibatan aktif warga dalam proses
demokrasi ini akan menjadi kunci untuk menjaga agar Pilkada tetap bersih dari
unsur-unsur yang bisa merusak integritasnya.
Kesadaran
kolektif ini tidak hanya akan membantu menjaga ketertiban, tetapi juga akan
memperkuat rasa saling percaya antarwarga yang menjadi fondasi penting dalam
setiap masyarakat yang demokratis.
Menjaga
kedamaian dan keharmonisan selama Pilkada 2024 bukan hanya menjadi tanggung
jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Ancaman dari isu SARA dan
penyebaran hoax adalah nyata, dan hanya bisa diatasi jika kita semua bersikap
kritis serta bijak dalam menanggapi setiap informasi yang kita terima.
Menghadapi
Pilkada ini, kita harus ingat bahwa perbedaan pilihan politik bukanlah alasan
untuk memecah belah, melainkan sebuah proses demokrasi yang seharusnya
mendewasakan kita sebagai bangsa. Oleh karena itu, mari kita tanamkan dalam
diri kita untuk selalu memeriksa fakta sebelum menyebarkan informasi dan tidak
mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi merusak persatuan.
Dengan
begitu, kita tidak hanya menjaga keharmonisan sosial, tetapi juga mewariskan
kepada generasi mendatang sebuah pelajaran penting tentang betapa berharga dan
pentingnya keberagaman dalam membangun bangsa yang kuat. Bersama-sama, kita
bisa memastikan bahwa Pilkada 2024 akan menjadi momen demokrasi yang damai,
inklusif, dan penuh kehormatan.
*)
Pengamat Sosial Budaya Lembaga Gala Indomedia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar